30 01 2008




MEREKA ADALAH BATU ATAU TATASURYA ATAS DIRI MEREKA SENDIRI

22 01 2008

MEREKA ADALAH BATU ATAU TATASURYA ATAS DIRI MEREKA SENDIRI
Sebuah catatan untuk “Kuncung dan Bawuk”
27 Mei 2006, 05.54 wib, 5,9 SR, dan kurang lebih 3.500 tewas…

Ada yang melantunkan megatruh dan dandanggula
Ada yang berdoa di lorong kota yang memar
Ada yang gemetar menggerus remah bata
Ada yang mengulur nafas ke mulut bocah
Ada yang melarik jejer lidi menghitung siapa pergi
Ada yang berebut detak jantung dengan pecahan aspal
Ada mulut merangkai angka menghitung yang hilang
Ada kaki tanpa alas menyaruk jejak-jejak yang dikasihi
Ada yang coba melipur duka dengan mencatat puisi seperti nasihat basi
Namun ada yang diam-diam mengheningkan cipta sambil membayangkan nikmatnya menghirup kopi joss…
Lalu obrolan berlanjut di angkringan, sembari jegang menyeruput wedang. Tak perlu diskusi serius, orang Yogya biasa dengan ngobrol ngalor-ngidul – gojeg kere untuk menopang kultur glenak-glenik speaking, rerasan antara wong cilik. Mengemban memori kolektif nilai-nilai agraris ndeso.

Meskipun agak sulit, dan barangkali tak pantas, membandingkan antara satu bencana kemanusiaan dan bencana lainnya. Apa yang dialami orang-orang di Yogya barangkali bisa dilarik dengan bencana tsunami di Aceh dan Nias, tsunami di Pangandaran atau Lumpur panas di Porong – Sidoharjo.
Bencana, tentunya memiliki bahasa yang hendak disampaikan kepada Kuncung dan Bawuk (manusia dan kehidupan). Bahwa kemampuan alam mendramatisir kebahagiaan dan kesedihan sesuai dengan kuasanya adalah realita yang tak terbantahkan oleh rasionalitas ataupun pengalaman manusia dalam menjajaki suatu “penaklukkan”.

27 Mei 2006, 05.54 wib, 5,9 SR, dan kurang lebih 3.500 tewas…
Kuncung dan Bawuk bukanlah penakluk drama satu episode yang bernama bencana. Namun Sesungguhnya mereka sedang berada dalam titik lemah. Sebuah titik beku dibawah 0 derajat dalam segala hal. Namun, mereka adalah batu atau tatasurya atas diri mereka sendiri. Mereka bisa keras, remuk, berputar dengan kecepatan yang selalu tetap dan stabil atau berhenti untuk kemudian mati.
Adalah satu hal yang amat manusiawi jika bencana alam melahirkan kesedihan, air mata bahkan trauma. Sigmund Freud pernah mengemukakan bahwa trauma adalah suatu ingatan yang direpresi. Dan, karena direpresi itulah maka trauma sering berlangsung secara tidak sadar dalam periode yang cukup lama. Guncangan psikologis yang disebabkan oleh ingatan mengerikan tentang bencana alam, permukaan tanah yang bergetar merontokkan apapun yang ada di permukaannya, tentang mayat-mayat yang berserakan, dan tentang kehilangan banyak anggota keluarga sekaligus berpotensi untuk membentuk ingatan yang traumatis.

Sebagai sebuah konteks, situasi sosial yang pernah dialami masyarakat Aceh membuat persoalan trauma menjadi sangat kompleks sehingga harus disikapi secara hati- hati. Ingatan tentang korban tsunami bercampur aduk dengan ingatan tentang korban kekerasan perang di Aceh, membentuk beberapa lapisan trauma yang saling menutupi.

Saya teringat akan sebuah karya ukiyo-e (cukilan kayu) yang dibuat oleh seniman Jepang Katsushika Hokusai (saya lupa tahunnya). Karya tersebut melukiskan sebuah keindahan ombak besar di pantai Kanagawa dengan latar belakang gunung Fuji. Sebuah karya yang indah, namun lucunya saat itu karya tersebut dituding oleh banyak kalangan masyarakat Jepang sebagai karya yang membangkitkan kengerian akan sebuah peristiwa Tsunami. Alam telah mendramatisir kebahagiaan dan kesedihan orang Jepang. Bencana telah “mendeformasi” frame keindahan yang dimiliki orang jepang saat itu, dan mungkin hingga sekarang (sampai kapanpun orang Jepang juga tak akan lupa dengan peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki).

Seperti, jutaan kaum Yahudi yang dibantai oleh rezim Nazi Jerman dalam peristiwa Holocaust. Pada tahun 1980-an, saat para psikiater dari Yale University melakukan pengumpulan testimoni dari para survivor Holocaust. Sebagian dari survivor ini masih memperlihatkan gejala trauma berkepanjangan. Gambaran traumatik ini direkam dalam sebuah film dokumenter ‘Shoah’, karya .
Claude Lanzmann.

Bagi “Kuncung dan Bawuk” gempa telah menjadi bagian memori kolektif nilai-nilai agraris ndeso mereka. Kultur glenak-glenik mereka sedikit banyak telah terganggu, entah untuk berapa waktu lamanya. Sampai kapanpun mereka tak akan pernah lupa dengan peristiwa ini….27 Mei 2006, 05.54 wib, 5,9 SR, dan kurang lebih 3.500 tewas…

Namun sekali lagi, mereka adalah batu atau tatasurya atas diri mereka sendiri. Mereka menggambar jagad, mereka sendiri yang akan meletakkan dimana bulan, bintang dan matahari. Mereka telah mempelajari sebuah ilmu hidup, yang belum pernah kita pelajari….

Entah kenapa aku begitu kangen teman-teman di Yogya, kubuat tulisan ini buat mereka…